Posted by lina on Jul 23, '08 1:06 AM for everyone Ceritanya nih ........ setelah istikharoh aku mantap untuk dioperasi. Aku nemu benjolan itu pertama kali 13 tahun lalu di kelenjar mamae. Tanggal 8 juli lapor ke RS Persahabatan, ternyata langsung di suruh masuk bangsal perawatan hari itu juga, blom bawa baju je. Akhirnya setelah semua urusan administrasi selesai aku pulang, istirahat dan baru masuk bangsal jam 9.30 malam. Sepanjang malam aku baca2 ayat kursi, muter surat yasin, dan dzikir " ya Allah, Ya Salaam" sampai tidur. Di tensi 140. Meskipun tampak luar tenang-tenang saja .......... ternyata tensi gak bisa dibohongi euy. Disuruh puasa dari jam 12 malam. Tanggal 9 pagi .... jam 7 dokter datang "nanti kita operasi jam 8 ya?" . Aku dah mandi dari tadi subuh. Jam 8 . Sebelum operasi aku sholat sunnah mutlak 2 rakaat untuk menenangkan diri. Di luar kamar sang petugas penjemput sudah menunggu. Akhirnya jadi juga ni ..... tensiku pagi ini masih 140. Di ruang tunggu ...kedua orangtuaku dan 2 orang adikku dah menunggu, nganter dan mau nungguin dan doa'in aku supaya operasinya sukses. Aku dinaikin ke kursi roda .... macam orang pesakitan aja. Setelah muter-muter lorong rumah sakit sampai tu ke gedung operasi. Beberapa orang dah ngantri di gedung operasi ini. Akhirnya aku dipanggil masuk juga. Wah ....baju suruh dilepas semua.... ganti baju ijo operasi, dan berselimut disuruh naik tempat tidur beroda, kepalaku dibungkus kain ijo juga dan diinfus deh. Di tensi lagi 136. Di sebelah kiriku terbaring seorang ibu yang sudah beberapa kali batal untuk dioperasi, karena tensinya selalu tinggi. tensinya saat itu 170. Suster membujuknya supaya tenang dan supaya tensinya bisa turun. Di gedung ini aku didorong ke arah sebuah ruang operasi yang cukup besar. Aku kedinginan, ACnya dingin banget. Aku disuruh pilih langsung masuk ruang operasi atau menunggu di depan pintu saja. Suster bilang di dalam masih ada yang sedang dioperasi, dan di dalam lebih dingin. "Di luar saja Sus", jawabku. Setelah beberapa lama menunggu, aku didorong masuk ke dalam ruang operasi. Kulihat 1 perawat perempuan, 2 perawat laki-laki. Aku di suruh pindah tempat tidur. Alat-alat rekam jantung dipasang di sepanjang dada kiri, ada 1 yang dijepitkan di jari tangan telunjuk kiri, kayaknya ada 1 lagi yang di jepitkan di jempol kaki kiri. Di lengan kanan dipasang tensi otomatis yang berjalan sepanjang operasi. Aku tidak melihat dokter yang akan mengoperasi aku. Aku cuma lihat dokter anastesi datang untuk menentukan obat bius yang akan diberikan kepadaku. sebentar kemudian aku dah gak sadar di antara bacaan zikirku, pasrah sajalah mo bagaimana lagi. Katanya setelah jatuh terbius, dipasang selang lewat mulut entah untuk apa, jadi aku tidak boleh sedang sakit batuk klo mau dioperasi. Urusan aurat ...... darurat ......aku gak pikirin. Agak malu juga sih .... tapi berhubung ....berhubung ....biarlah. Mereka sudah biasa melihatnya. Eh .....tahu-tahu ...... aku ditepuk-tepuk perawat laki-laki, dan ditanya namaku. Aku terbangun kesadaran tapi blom bisa buka mata, kesadaran blom 100%, tapi aku dah bisa jawab pertanyaan mereka. Dalam hati aku bekata " Oh Operasi dah selesai to ? kok gak ada rasanya ya?" Aku sudah berada di luar ruang operasi dan hampir siap dibawa keluar gedung itu untuk dibawa ke bangsal rawat inap lagi. Jam 12 siang waktu aku disadarkan. Aku masih ingat untuk meminta kerudungku u kupakai sebelum didorong ke luar gedung. Alhamdulillah ............ aku selamat. Sampai di ruang rawat aku dipasangi infus baru dan disuntik 3 macam suntikan, cukup terasa sakit suntikannya. Salah satunya suntikan penghilang rasa sakit. Di suntik 3 X sehari hari itu. Aku lihat benjolan yang diambil itu ada 2 kecil segede kacang merah dibagi dua agak gepeng, warna putih padat seperti lemak. Itu baru mau di bawa ke laborat. Kamis Tgl. 10 juli pagi di suntik lagi ..... Eh ............... waktu dokter datang " hari ini boleh pulang katanya". Wah jadi berseri-seri nih daku. Klo lama-lama di situ Stress lihat kanan kiriku kok sakitnya pada ngeri ya....... semoga keduanya cepat sembuh. Akhirnya setelah urusan administrasi beres, jam 12 siang aku pulang ............... sampai rumah deh. ............ Eh ............ ada telpon ...........Yang pada mau nengok dah yampe rumah sakit. "Nengoknya ke rumah aja! " Sabtu 12 juli ..................... Kubilang ke saudaraku, "Kita ke PRJ yuk ! ". Hasil laboratorium seminggu kemudian : kesimpulannya : Mamary Displasia (kalo gak salah kata dokter artinya tumor jinak mamae yang paling ringan yang disebabkan oleh ketidak seimbangan hormon).
Posted by lina on Jan 2, '08 10:51 PM for everyone Siapa suka sop kaki ? bisa ngurusnya gak ? Bila datang waktu Qurban, wah seneng sekali rasanya ........ Hari Raya umat Islam yang paling besar. Acara pokokku hari itu biasanya, nonton upacara penyembelihan qurban. Enak ya kalo jadi sapi dan kambing qurban hari itu .... langsung terbang ke surga deh. Qurban tahun 2007 ini, di kantorku banyak juga: 6 sapi , 25 kambing.Kalo lagi Qurban begitu, biasanya buntut sapi diperebutkan para laki-laki. Kadang-kadang Kuliat kaki sapi banyak peminatnya. Aku gak kebagian , harus pesan beberapa hari sebelumnya rupanya. O .... o..... kaki kambing masih banyak, kuliat ada sebanyak 2 karung 50 kg-an. Aku kebagian kaki kambing, 16 biji dari panitia. Bagi yang belum tahu cara ngurus kaki hewan qurban, silakan disimak: Ambil air setengah panci ukuran sedang , larutkan dalam air itu kapur sirih satu sendok makan (atur aja deh takarannya secukupnya). lalu didihkan. Setelah mendidih, masukkan/celupkan kaki hewan yang mau dibersihkan ke dalam air itu kira-kira satu menit, lalu angkat kaki itu pake penjepit (biar gak kepanasan) dan keriklah bulu-bulunya menggunakan pisau. bulu-bulu yang menempel akan sangat mudah dibersihkan. lalu lepaskan kuku hewan itu dengan mencongkelnya, bisa menggunakan tangan, atau pake obeng (soale kotor kalo pake tangan). Nah ...... kaki hewan jadi lumayan bersih ni. Teruskan untuk kaki-kaki hewan berikutnya, langkah-langkahnya sama. Kalo dah selesai semuanya. Angkat panci dari kompor lalu sedikit bulu-bulu yang masih tertinggal dihilangkan dengan memanaskan kaki itu di atas api kecil, satu per satu. Trus cuci kaki itu pake air hangat ..... dah bersih ...... tiriskan. Selesai dan siap diolah. Kalo anda tak berniat memasaknya hari itu ........... maka masukkan saja ke kulkas. Biarpun sampai sebulan gak papa deh. Cuma ..... klo kelamaan di kulkas, kadar airnya jadi berkurang, kalo mau dimasak harus disiram air mendidih dulu. Direndam air mendidih sebentar, sampai kulitnya mengembang lagi.
Posted by lina on Dec 17, '07 10:01 PM for everyone Jumat jam 10-an tgl 9 nopember aku dapat pemberitahuan mendadak per telpon katanya aku disuruh pergi ke Solo menghadiri Kongres IPI, di suruh bos katanya, cuma sorangan. Wah ..... nyuruhnya gak serius ni ...........kok gak dari kemarin-kemarin. Akhirnya berbekal uang yang mepet dari bos hari itu aku titip beli karcis kereta api argo solo ke seorang teman dari sub direktorat lain yang diminta bosku untuk bareng denganku, aku juga langsung pergi mendaftar kongres IPI di Marsela. Senin pagi tgl 12 pergi dah ke stasiun gambir ......... janjian jam 7 pagi. Aku datang lebih awal 6.30 dah nyampe. Temenku lama banget datangnya ......... ampe ketar-ketir takut ketinggalan kereta. Jam 8.00 jadwal argo solo berangkat. Beberapa menit sebelum jam 8, temanku baru datang ......... dia naik jabotabek...........pantesan jam karet.Di Gambir aku lihat seorang Manajer kantorku .... mo pergi jg dia. Kami nyampe ke solo hampir jam setengah 6 sore. Dua orang teman barenganku nginap di Hotel Quality, tempat berlangsungnya Kongres. Ia mendaftar jauh-jauh hari, satu paket dengan penginapannya. Aku ........di hotel melati depannya (Karya Sari), kamar pesananku dah diambil orang .... klo pesen kamar katanya mesti transfer DP dulu biar tak di oper ke orang lain, jadi ...... sedapetnyalah ......... yang sehari Rp 55.000. ha...ha...ha.... lumayan ....sisa uang bisa kubeliin oleh-oleh nanti..... Tgl. 13 Nop 2007 Seminar IPI dimulai .............. Pembicaranya .......lumayan-lumayan. Pesertanya banyak juga sekitar 700 orang. Aku banyak yang tidak kenal. Sebagian kecil aku memang mengenalnya. Sebagian dari mereka guru-guru di bidang perpustakaan, yang sudah biasa jadi pembicara di seminar-seminar, sebagian teman-teman kuliahku dulu baik di yogya, bandung maupun di jakarta, sebagian tentu saja teman-teman kantorku. Orang-orang yang dari daerah ....... para pejabat rata-rata ......... enak lah mereka pergi dengan biaya dinas. Kalau orang macam aku ni .....dikirim ke kongres IPI Solo karena di Sub Direktoratku cuma sanggup mengirim satu orang saja, maka ditunjuklah aku karena dipandang berani pergi sendiri, lagi pula cuma di Solo, siapa sih yang cuma mau ke Solo?. Lain kali apakah aku akan diikutsertakan acara kongres IPI lagi? ........ kukira aku harus pergi dengan biaya pribadi deh. ........ wah ...... kocek pegawai negri ...... paling tidak habis biaya 5 bulan gaji klo pake nyebrang pulau. Pembicaranya antara lain : Walikota solo ........ bagus juga proyek taman bacaan yang dipaparkannya ........Ada Habiburrahman El Shirazy (tulisannya bener gak ya?) penulis novel Ayat-ayat cinta ........... orang Bantul rupanya. Rieke Dyah Pitaloka ......, lalu Gusti Wandansari dari Kasultanan Solo ......... beliau bercerita tentang perpustakaan di kraton. O ya......... ada seorang Doktor yang bagus dan kocak paparannya ........... lupa namanya. Trus ada seorang pustakawan berprestasi yang juga jadi pembicara. Di Hari terakhir, kami diajak berkunjung ke Kraton Solo, juga ke Puro Mangkunegaran, juga ke Museum Radya Pustaka. Di sana kami keliling - keliling, yang jelas banyak sekali barang antik yang bagus-bagus, kami juga ke perpustakaan kraton dan perpustakaan yang di Puro Mangkunegaran, banyak naskah kuno dan buku-buku tua tentu saja, sebagiannya ya tentu saja naskah tua dengan tulisan jawa dan bahasa jawa kuno. Aku sudah lupa cara baca huruf jawa, harus belajar lagi. Kraton surakarta dan Puro Mangkunegaran ...... terlihat tidak terawat, kotor. Jauh sekali bila dibandingkan dengan Kraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman. Maklumlah biaya perawatan kerajaan tentu sungguh besar ............... Pemerintah kita mungkin hanya membantu sedikit saja , dan adakah keluarga kerajaan solo yang punya bisnis yang cukup maju pesat untuk membiayainya? Sebelum menghadiri acara, setiap pagi habis subuh sampai jam 7 pagi, aku sempetin jalan-jalan keliling kampung-kampung di sekitar Hotel Quality. Rumah-rumah sekitar situ bagus-bagus dan besar-besar luas tanahnya. Daerah situ cukup bersih. Coba kalo aku dah beli sepeda lipet waktu itu, klo kubawa ke sini enak tentu keliling-kelilingnya, gak akan begitu capek. Di sekeliling stadion manahan, banyak pedagang makanan lesehan yang tertata cantik, kulihat banyak orang berolah raga di situ. Kayaknya makanannya cukup enak-enak. Pulang jalan-jalan, aku telpon Oh Sacha ke Jakarta ..........." Ohm pesen sepeda lipet yang kayak punya tante Rifa, stoknya ada gak? " . Ha......ha ......ha ......., akhirnya beli juga. Aku sempet sempetin ke pasar klewer ............ ketika orang-orang pulang kampung ke jakarta , aku nambah satu hari di solo, supaya teman-temanku yang nginep di hotel Quality bisa numpang di penginapanku sampai mereka cabut ke Jakarta lagi. Aku ke klewer pagi-pagi sekali ........ blom buka. Jadi mampir dulu ke masjid kraton, istirahat. Melepas kantuk di bawah pohon palem di depan masjid. Kulihat ada pengajian para sepuh, berbahasa jawa di halaman kanan masjid. Yah .....melepas kantuk sembari dengerin pengajian. Nunggu klewer dibuka. Di Klewer ......... lebih banyak batik yang tidak bagus. Ada sih yang jual batik yang halus tapi susah nyarinya, maklum masih baru nginjak klewer blom hapal tempat. Kalau mau belanja batik yang agak lumayan mendingan anda pergi ke PGS saja (Pusat Grosir Solo). Harganya paling beda 10 s.d.20 ribu klo pinter nawar. Aku tidak pinter nawar. Tapi bedanya dengan klewer sekitar 10.000 lah. Mungkin juga ada yang sama harganya. Nanti kulanjutkan lagi ....
Posted by lina on Dec 9, '07 10:59 PM for everyone 
 Malam pertama di Mina kami menggelar tikar di pinggir jalan di komplek Mina. Semakin malam komplek mina semakin penuh orang. Gunung-gunung batu di mina juga di panjat untuk bermalam oleh jama’ah dari negara lain. Sebagian jama’ah menggelar tenda-tenda untuk mereka tinggal selama bermalam di mina. Jama’ah haji Indonesia, tenda untuk bermalamnya ada di daerah Mina Jadid (daerah perluasan Mina), waktu jaman Rasulullah, daerah mina jadid tidak temasuk wilayah Mina. Karena Jama’ah haji tidak lagi tertampung di Mina (yang asli) maka diperluaslah Mina, daerah perluasan mina disebut Mina Jadid, para ulama Timur-tengah mengijinkan hal itu dan bermalam di daerah mina jadid dianggap sah. Karena reguku terusir dari tenda di Mina jadid, jadilah kami bermalam di komplek mina yang asli, malah lebih afdol’kan, ya.... meskipun dapat di pinggir jalan. Dan harus senantiasa waspada terhadap arus orang-orang yang masuk dan keluar mina. Setiap waktu kami harus siap segera berdiri dari duduk kami bila ada mobil polisi yang mau lewat atau tiba-tiba ada arus orang yang berbondong-bondong datang dan hampir melibas orang-orang yang duduk. Wah bisa mati keinjak-injak ni kalau tak waspada. Jatah ransum rombongan kami ada di tenda maktab 46 di mina jadid. Beberapa orang dari kami, termasuk aku dan 2 adikku pergi ke sana untuk mengambil ransum makan malam dan buah. Di sana kami bertemu ustad Syaiful yang membawa jamaah dari AURI. Beliau katanya ingin bergabung dengan regu kami dan minta ditemani untuk membawa jama’ahnya melaksanakan tawaf ifadoh dan sai dan tahalul hari berikutnya, besok, karena ada 2 wanita di regunya yang mau kedatangan haid, jadi harus buru-buru ke masjidil haram. Dengan gotong royong di gotong pake kayu para laki-laki membawa ransum ke daerah mina tempat regu kami berkumpul. Sebaiknya selama bermalam di mina ini kita tak lupa tetap memperbanyak zikir, baca qur’an, dan ibadah lainnya. Sebagian dari waktu kami di mina ini kami pake untuk berkenalan dengan para jama’ah haji yang ada di sekitar kami duduk. Sholat magrib dan Isya kami laksanakan berjama’ah di pinggir jalan, bergantian dengan orang-orang. Di mina ini sebenarnya ada masjid juga sih tapi malas mencarinya soalnya sudah penuh sekali orang, susah mau jalan. Di Komplek mina toilet umum ada di kanan kiri jalan raya, tapi kondisinya sangat kotor dan kurang air. Toilet itu kecil-kecil. Toilet yang bersih ada di bangunan warna hijau di sebelah kanan tugu aqobah, toiletya ada beberapa lantai, dan banyak jumlah toiletnya, lagi pula banyak air. Banyak orang yang belum tahu bahwa di bangunan itu tersedia banyak toilet, karena gedung itu rupanya masih baru. Melempar jumroh di hari yang ke 2 Setelah tiba pukul 1 malam, arus orang yang meninggalkan mina dimulai. Regu kami (2 regu = 22 orang) ditambah regunya ustad Syaiful mulai bergerak ke daerah jumroh untuk melempar di jumroh ula, wusto, dan aqobah. Ketua rombongan kami memilih waktu dini hari/tengah malam untuk lempar jumroh demi keamanan kami. Aku lupa jam berapa kami melempar di ketiga jumroh itu. Semua prosesi melempar jumroh hari ke dua ini alhamdulillah berjalan lancar bagi anggota rombongan kami. Tapi seperti pada hari yang pertama, kami melempar jumroh bergantian hingga seluruh anggota rombongan telah menunaikannya. Setelah itu kami bersama-sama berjalan ke arah masjidil haram. Ketika proses keluar dari daerah mina ini kami sempat hampir bertabrakan dengan arus orang yang berjalan ke arah yang sebaliknya dari kami. Kami sempat panik dan hampir jatuh. Kulihat ketua rombonganku cepat membimbing kami mengambil jalan yang lain yang lebih lapang. Orang-orang sebagian saling mendorong ketika tabrakan arus., dan agak sulit menghindar klo dah terlanjur tabrakan, orang-orang yang dibelakang kita sengaja atau tidak terasa mendorong-dorong kita. Setelah berjalan agak lumayan jauh ........kami dapat kendaraan untuk ke masjid haram. ... Tiba di halaman masjid regu ustad syaiful masuk ke masjid untuk menjalankan rangkaian ibadah haji dan 2 regu kami berjalan pulang ke pondokan, ntuk tidur istirahat. Enaknya pulang pergi Makah – Mina dalam prosesi bermalam di Mina adalah : Kami bisa cukup isirahat di hotel, bisa mencuci , mandi, masak dll dengan nyaman. Bermalam di Mina bukan di Mina jadid jadi lebih afdol terasa. Bermalam di Mina hari ke 2 Ba’da sholat ashar kami berangkat menuju mina dari hotel. Kami dapat kol bak terbuka untuk ke Mina. Wah ...... bakalan kaya pengangkutan binatang ternak nih ....... ha....ha...ha...., tapi cukup menyenangkan. Orang-orang menyempatkan diri berfoto untuk kenang-kenangan naik kol bak terbuka. Sampai di Mina kami lakukan hal-hal yang sama seperti malam sebelumnya. Haidku belum selesai baru hari ke tiga. Selama Di Mina setiap pagi dan sore hari ..... ada pembagian makanan kotak dari anak raja Fadh atas nama Raja Fadh. Beberapa kontainer ransum makanan kulihat terpakir di beberapa titik di Mina. Tapi pembagian ransum ini tidak di atur rapi jadi ada yang dapat banyak , ada yang gak kebagian sama sekali. Di mina aku Cuma lihat aja hal itu dari jauh, mereka para jamaah haji berebut. Bila petugas pembagi kotak makanan itu ras India dia terlihat lebih mengutamakan jamaah haji dari ras india untuk mendapatkannya. Padahal harusnya ia tak boleh pilih kasih dalam membagi ransum. Kecelakaan di toilet wanita di Mina jadid Di Mina jadid kudengar ada kecelakaan di toilet wanita. Dua orang jama’ah haji wanita Indonesia terjerumus (kejeblos) masuk ke kolam kotoran manusia, dan meninggal langsung. Ternyata ........ di bawah deretan toilet itu ......dalamnya adalah kolam kotoran manusia yang atasnya ditutup jaring-jaring kotak besi baru kemudian dilapis dengan plastik keras sebagai lantai toilet. Infromasi yang di dapat ......... kejadiannya bermula dari minimnya jumlah toilet yang ada sehingga antrian jama’ah haji di toilet cukup panjang. Para ibu-ibu yang sebagian sudah tak tahan lagi ngantri untuk buang hajat berusaha masuk ke satu toilet bersama-sama. Klo gak salah satu pintu toilet dimasuki 4 orang ibu secara bersamaan, eh lantai toilet tak kuat menahan beban ..... akhirnya 2 dari mereka kejeblos masuk ke bawah lantai toilet kejebur di kolam kotoran manusia. Yang 2 orang lagi bisa tertolong gak sampai kejeblos. Hati-hatilah terhadap toilet dengan konstruksi semacam itu. Ia hanya dirancang untuk dimasuki oleh satu orang saja. Toilet semacam ini juga banyak di padang arafah tempat kita wukuf. Melempar jumroh hari yang ke 3 Sama seperti malam sebelumnya ....... kami melempar seluruh jumroh pada waktu dini hari. Kami mendengar kabar di waktu hari ke 3 melempar jumroh terjadi kecelakaan. Hampir 400 –an orang meninggal terinjak-injak ketika melempar jumroh. Aku lupa kejadiannya jam berapa .......... tapi pada umumnya para jama’ah haji yang ada di komplek mina itu malah tak tahu ada kecelakaan, karena penanganan kecelakaan oleh pemerintah arab saudi sangat cepat. Dan bekas-bekas kecelakaan tak terlihat, hanya saja kabarnya tiba-tiba saja daerah melempar jumroh ditutup sebentar, dan tiba-tiba saja banyak polisi. Kebanyakan korban meningal dari mesir. Yang dari Indonesia ada tapi tak banyak yang menjadi korban. Seorang ibu pemilik yayasan KBIH kudengar patah kakinya ketika dia berusaha menolong jama’ah haji anggotanya dari kejadian kecelakaan itu. Dia menolong orang lain, tapi dialah yang kemudian terkena musibah. Rombongan/regu kami memutuskan mengambil nafar awal di Mina, yakni kami bermalam di Mina hanya dua malam saja. Sebagian jama’ah haji mengambil nafar akhir, yakni bermalam di Mina selama 3 malam. Jadi setelah melempar jumroh hari yang ketiga kami tidak bermalam di Mina, tapi di Mekah. Hari haji terakhirku di Masjidil Haram Kalau tak salah sehari setelah reguku menyelesaikan rangkaian ibadah haji, kami dijadwalkan terbang ke Indonesia. Padahal aku sendirian belum menyelesaikan rangkaian ibadah hajiku. Kalau tak salah sehari sebelum jadwal kepulangan kloter 1, dokter memberiku suntikan penuntas haid, maksudnya supaya haidku segera tuntas dan aku suci lagi sehingga bisa segera menyelesaikan prosesi haji yang belum kupenuhi, sehingga akan bisa pulang ke Indonesia bersama kloter 1. Aku lupa jam berapa aku di suntik. Kata dokter beberapa jam setelah disuntik aku akan sakit perut, dan darah yang tersisa akan keluar. Beberapa jam kemudian ........perutku tak kunjung sakit, Kutunggu sampai keesokan hari ......... bersih....... , tak ada yang keluar, aku lapor dokter. Dokter menyuruhku segera melaksanakan tawaf ifadoh, sai dan tahalul, serta tawaf perpisahan. Aku masih menunggu jangan-jangan kan ada yang keluar, jam 9 pagi ada flek tipis sekali, satu titik. Kupikir ini tanda haidku mo selesai beneran. Aku lalu mandi besar jam 11 siang. Setelah itu aku segera pergi ke Masjidil Haram sendirian, aku berniat mulai melaksanakan prosesi ibadah hajiku ba’da salat duhur. Di jalan aku bertemu adikku Munir ..... dia tanya apa dia perlu menemaniku menyelesaikan hajiku? Kubilang aku berani sendiri, kulihat dia lelah. Magrib hari itu aku dijadwalkan lapor ke petugas haji kalau mau pulang bareng kloter satu. Tidak boleh lebih dari magrib, laporannya..... Ba’da salat duhur kuperiksa sekali lagi .......... bersih. Kemudian aku segera turun ke daerah tawaf di lantai dasar. Aku tawaf mulai dari batas tanda tawaf, yakni sudut lurus hajar aswad tarik garis ke lampu batas mulai tawaf. Aku melakukannya dengan cepat, aku tawaf dengan berjalan zigzag nyelip-nyelip di antara para jama’ah haji lain. Serombongan wanita turki (3 orang) menarikku masuk kebarisan mereka dalam tawaf. Kuberi tanda ...... aku mau sendiri karena harus cepat. Sempat pula seorang kakek tua memegang dan mengikutiku dari belakang, kayaknya aku dikira istrinya, mungkin dia kehilangan istrinya. Aku berjalan memutari kabah cepat-cepat berharap sang kakek terlepas pegangannya dariku. Setelah hampir 1,5 putaran dia terlepas. Alhamdulillah. Aku tawaf sembari membaca doa-doa tawaf dalam buku doa dari DEPAG, doa sapu jagad, ayat kursi, doa apa saja yang kuingat dan membaca sebagian surat-surat pendek dalam AlQur’an. Setiap sampai ke sudut hajar aswad kucium telapak tangan kananku dan kulambaikan tangan ciuman jauh kepada hajar aswad sambil meneriakkan kata Bismilaahi Allahu Akbar. Sudut hajar aswad kulihat selalu penuh orang. Selesai 7 putaran tawaf ....aku baca doa, lalu aku salat sunah tawaf di belakang Maqam Ibrahim dua rakaat. Ada bekas telapak kaki Nabi Ibrahim di dalam sangkar Maqam Ibrahim itu. Selanjut aku berjalan menuju bukit sofa untuk start melaksanakan Sai. Sai adalah berjalan antara bukit sofa dan marwa 7 putaran ( dari sofa ke marwa dihitung 1 putaran, begitu pula sebaliknya). Aku lupa kapan aku melaksanakan solat ashar, apakah di antara mengerjakan sai lalu adzan ashar tiba trus aku sholat ashar dulu lalu melanjutkan sai lagi ataukah aku menunggu sholat ashar dulu, setelah sholat ashar baru aku memulai sai. ............. Eh tapi kayaknya aku melakukan seluruh sai setelah melaksanakan salat ashar berjama’ah. Di sisi – sisi kanan lintasan sai dari marwa ke sofa ada tempat wudhu dari air zamzam, aku wudlu di situ. Sebelum azan ashar tiba aku menunggu di salah satu pilar masjid membaca AlQur’an, menunggu azan ashar. Ba’da salat ashar, Aku memanjat bukit Sofa, sampai setinggi ¾ bukit. Kuhadapkan badanku kepada kiblat, berdoa tuk memulai sai. Segera kemudian aku berjalan turun dan menuju ke lintasan sai menuju bukit marwa. Ketika tiba di antara 2 pilar hijau (ditandai dengan lampu hijau) aku berlari-lari kecil sambil berdoa. Sepanjang lintasan sai aku mengulang-ulang doa yang kubaca dari buku doa DEPAG. Semua kukerjakan dengan cepat, aku dikejar waktu ............ menjelang magrib sai kuselesaikan. Aku tahalul, pinjam gunting dari jama’ah haji lain. Alhamdulillah. Selesai sudah hajiku. Ya ....Allah terimalah hajiku. Aamiin. Aku segera berjalan pulang cepat-cepat ke arah pondokanku di misfalah. Kukabarkan kepada teman-teman kamarku, “Ibu-Ibu aku sudah selesai!”, seruku. “Alhamdulillah”, Kata mereka. Aku melepas mukena dan pergi menuju ke hotel tempat petugas haji kloterku menginap ( sekitar 500 m dari hotelku). Saat adzan magrib aku sampai di tempat mereka. Aku lapor “Pak aku jadi pulang bersama rombonganku, hajiku baru saja kuselesaikan”. “Dengan siapa kamu mengerjakannya, tanya petugas itu?” Kujawab “Aku sendiri”. Lalu petugas itu berkata, “Berani?”. Kujawab dengan senyuman. Setelah lapor ....... aku pulang ke hotel dan melaksanakan salat magrib. Ba’da salat magrib aku pergi lagi ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf wada (tawaf perpisahan). Jarak hotelku ke masjidil haram sekitar 2 km. Banyak juga aku berjalan hari itu ya? Setelah salat Isya, aku mulai melaksanakan tawaf wada. Aku tawaf sembari menangis dalam hati, hatiku pilu akan berpisah, mataku berkaca-kaca ........ kuberdoa diantaranya mohon diijinkan sering-sering datang kemari, ke Baitullah untuk haji dan umroh. Sembari tawaf kupandangi bangunan kabah yang berselimut sutra hitam, “Ya Allah kabulkanlah”. Di antara tawaf itu kuhampiri kabah dan menciumnya. Sekitar jam 9 malam aku baru menyelesaikan tawaf wada. Lalu aku berusaha mendekati multazam untuk berdoa yag terakhir kali itu, dua kali putaran aku mencoba ....... mental melulu. Padat sekali jama’ah haji .............. aku tak bisa berdoa di multazam lagi ..........sudah malam ...... aku harus pulang ke pondokan ................ pukul 2 dini hari kami akan berangkat ke bandara. Di tepi daerah tawaf aku bertemu adikku Munir, ia menjemputku. Kami berjalan menuju pintu keluar .........Sebelum keluar Kupandang kabah satu kali lagi. Kami keluar dari masjid .......... di jalan depan masjid, aku mampir sebentar ke toko emas, J uangku tak cukup untuk membeli gelang emas indah buatan India, gram-annya terlalu besar, dan harga emas baru saja naik, kudengar minyak bumi tembus 100 US $ per barel. Uang itu rencananya kusisakan, hasil penghematan, untuk biaya aku tinggal di Makkah 2 bulan lagi seandainya hajiku belum bisa kuselesaikan hari ini. ................... J masih ada uang untuk di bawa pulang. Hari sudah semakin malam. Kami lanjutkan perjalanan pulang , sebelum belokan jalan ............. kubalikkan badanku menghadap masjidil haram. Tampak Masjidil Haram yang megah di depanku ............ Kupandangi ia dan kuucapkan salam perpisahan dalam hatiku........... Aku berjalan mundur beberapa langkah........... Lalu aku berbalik dan tak menoleh lagi ..............
Posted by lina on Jun 22, '07 5:56 AM for everyone Melempar Jumroh Tiap maktab haji Indonesia mendapat sejumlah tenda di Mina, di situ ada pula toilet dan dapur maktab. Toilet maktab terbatas. Banyak jama’ah haji yang terlambat sholat subuh karena ngantri toiletnya panjang. Sebagian jamaah kulihat wudhu pake air dari gallon-galon air minum di sepanjang lorong antar tenda. Sekitar jam 6.30 pagi kami berjalan kaki menuju tempat melempar jumroh Aqobah. Dari gapura tenda maktab 46 kami menuju terowongan mina. Terowongannya besar sekali, menembus gunung batu. Panjang terowongan kira-kira 1 km. Terowongan kalo gak salah dibagi 2 jalan besar. Yang satu untuk masuk daerah mina (arus masuk), yang satunya lagi untuk arus keluar daerah mina. Di sepanjang terowongan ada banyak blower untuk mengalirkan udara. Kami ber 22 orang berjalan sambil ngembol barang masing-masing. Sebagian besar anggota rombongan adalah orang tua. Sebagian dari laki-laki muda membawakan tas-tas ibu-ibu yang tak bermahram, takut klo mereka nanti tak kuat jalan. Kata ketua rombonganku, jarak ke jumrotul aqobah dari tenda 3 km. Hari cerah, pagi hari lempar jumroh masih kehitung blum padat. Di jalan kami bertemu dengan orang-orang yang satu hotel. Jumroh sekarang berupa pilar yang panjangnya 8 m. Komplek lempar jumroh ini ada beberapa lantai . Kami melempar di lantai dasar, ketua rombonganku mencari yang aman barangkali. Di lantai paling atas biasanya yang paling padat. Aku sebenarnya ingin melempar di atas…..tapi gak berani ninggalin rombongan. Kami berhenti di salah satu tiang besar bangunan di depan jumrotul aqobah. Kami disuruh melempar bergiliran, 7 orang mendekati pilar aqobah untuk melempar jumroh, yang lain menunggu di tiang itu. Setelah 7 orang itu kembali pada kami, baru yang lain pergi mendekati jumroh aqobah. Begitu seterusnya sampai semua anggota rombongan selesai menunaikan lempar jumroh pertama ini. Melempar jumroh aqobah adalah saat yang dipandang paling berbahaya di mina, karena hari itu semua jama’ah haji harus melempar jumroh. Untuk menghindari kecelakaan (tabrakan arus manusia), pemerintah arab Saudi membuat jadwal pelemparan jumroh bagi tiap-tiap Negara. Indonesia biasanya mendapat jadwal di waktu-waktu yang tidak utama. Waktu-waktu utama biasanya adalah giliran ras-ras yang berbadan besar, seperti afrika, mesir, arab. Boleh sih melanggar dari waktu yang di anjurkan pemerintah arab Saudi, dan memilih waktu yang utama, tapi biasanya di waktu-waktu utama jalan ke komplek lempar jumroh akan banyak dijaga askar dan polisi. Mereka sengaja menghalangi para haji yang badannya kecil-kecil dan hajris dari dari Negara yang tidak mendapat giliran pada jam yang bersangkutan, karena kalo mereka nekat juga maka kemungkinan akan celaka, mati terinjak-injak, karena padatnya orang yang melempar jumroh. Sebelum mendekati jumroh aqobah aku berdoa dulu, baca dari buku doa. Sambil berjalan kami tengok kanan-kiri dulu kalau-kalau ada rombongan yang mendadak datang dan menambrak kami. Bismillahi Allahu Akbar begitu kuserukan sambil melempar kerikil ke tugu aqobah, 7 kali lemparan sambil menyeru Allah. Waktu kami melempar jumroh aqobah, tidak padat orang, mudah jalannya menunaikan ibadah ini. Bisa menempel di bibir lingkaran tugu aqobah. Melempar jumroh aqobah hanya boleh dari satu sisi ( setengah lingkaran yang menghadap kiblat), jadi pada sisi setengah lingkaran yang membelakangi kiblat lampunya di matikan sebagai tanda bagi para haji tidak boleh melempar dari situ. Dari lantai dasar ini aku mendengar bunyi kerikil-kerikil yang berjatuhan ke dalam lingkaran aqbah yang berasal dari lantai atas. Setelah selesai lempar jumroh aqobah, kami bertahalul yang pertama. Sejak saat itu kami bebas dari memakai baju ihrom. Alhamdulillah. Langsung Tembus ke Masjidil Haram Semakin siang komplek jamarat ini semakin penuh orang. Setelah semua anggota rombongan selesai menunaikan lempar jumroh, kami tidak kembali ke tenda. Kami bertekat dalam satu hari ini menyelesaikan semua rangkaian ibadah haji kami ke masjidil haram (kecuali bermalam di mina yang belum akan selesai). Jadi ibadah haji ditembus dalam satu hari. Anak wanita dari ketua rombonganku akan segera datang haidnya, begitu pula beberapa wanita dalam rombonganku akan segera kedatangan haid, Aku sendiri sudah haid sebelum wukuf, jadi kami tembus ke masjidil haram hari itu untuk mengejar haid teman-teman yang akan segera datang, supaya tidak menghalangi ibadah haji kami. Begitulah…… akhirnya berombongan kami mengikuti arah orang-orang yang berjalan kaki ke mekah, kami menuju masjidil haram untuk tawaf, sai, lalu kemudian tahalul. Perjalanan menuju ke mekah tidak terasa jauh. Jauh juga sih……..Orang-orang dari berbagai Negara berjalan kaki kearah yang sama, tidak ada kendaraan yang lewat, semua akses jalan yang dilewati jamaah jalan kaki ditutup. Ada sih beberapa ojek motor yang bisa lewat. Ketua rombonganku berjalan paling depan. Rombonganku pake tanda slayer dan kudung merah menyala (wanitanya) biar mudah dicari kelompok kalo terpisah. Para bapak dan ibu-ibu dirombonganku berjalan saling mendahului, mereka takut ketinggalan dari rombongan. Akhirnya aku dan adikku mengalah saja, kami berjalan paling belakang, toh kalo ketinggalan kami bisa pulang sendiri. Adikku Munir dan teman muda kami Syaiful kadang-kadang ada di belakang kami sambil melihat-lihat kalo nanti ada yang ketinggalan. Beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat sejenak, minum dan makan bekal sedikit di pinggir jalan. Meskipun lelah …… semuanya masih kuat jalan. Ada beberapa terowongan yang kami lalui, aku lupa jumlahnya. Tidak banyak orang Indonesia yang kulihat hari itu. Yang berjalan ke masjidil haram kebanyakan orang-orang dari Negara lain, yang berbadan besar. Kadang-kadang aku melihat sedikit orang mongol di jalan searah dengan kami. Akhirnya kami sampai juga di halaman masjidil haram di depan daerah sofa marwa. Di situ ada semacam terminal bus juga sama dengan terminal bus yang di depan pintu Umroh, disamping kanan Hilton kalau dari arah dalam masjid. Rombonganku mengumpulkan barang bawaan ditumpuk jadi satu di dekat sebuah tiang di halaman masjid di depan daerah sai. Kalau nggak salah itu sekitar jam 11 siang. Pada prosesi ibadah selanjutnya………masing-masing suami bertanggung jawab atas keamanan istrinya. Ibu-ibu yang tak bersama muhrimnya mengikuti pasangan suami istri yang lain atau mengikuti laki-laki muda dalam rombongan kami. Ya…. Kami saling menjaga. Mereka pergi berpasangan, atau bertiga, atau berempat masuk ke masjidil haram untuk tawaf, sai dan tahalul. Karena sedang haid……………. Aku menjaga semua barang bawaan rombongan di halaman masjid………… sendirian. Dari tempat aku duduk beristirahat ………….. kulihat sepanjang sofa – marwa penuh, lantai satu dan lantai dua penuh, padat merayap. Jalannya orang-orang itu pelan sekali saking penuhnya. Lantai tiga kulihat panas terik sekali. Makin siang halaman masjid makin penuh oleh jamaah haji yang baru tiba. Sebagian mereka bergelimpangan tak karuan di halaman masjid beristirahat kelelahan. Saking penuhnya halaman masjid oleh orang, kulihat mobil pengepel lantai sampai gak bisa jalan. Jadi ………….halaman masjid tampak kotor karena gak bisa dipel. Di samping barang-barang aku menghamparkan tikar dan duduk di situ. Rupanya aku lelah juga, mataku kriyip-kriyip susah dibuka. Aku berada dalam keadaan antara tidur dan terjaga. Punya tanggung jawab jaga barang………… mau tidur kepikiran juga. Jam satu siang ada temanku suami istri yang datang. Mereka baru selesai tawaf, dan baru mau mengerjakan sai. Sang istri ketakutan mau sai di lantai 1 atau 2 tapi gak berani. Penuh banget………..ngeri katanya. Dia bilang mau ke lantai 3 saja meskipun panas juga akan dijalani. Mereka berdua pergi lagi. Mulai jam 2 teman-teman mulai datang dua-dua. Mereka bercerita keadaan tawaf dan sai di dalam masjid. Adikku tawaf dan sai di lantai satu. Mereka mengerjakannya sambil terkantuk-katuk karena lelah. Adikku jalan sai sambil merem dan gandengan ……….. sampai ada orang mengira kalo adikku itu buta……… jadi dituntun oleh orang entah dari negara mana. Selesai sai mereka tahalul yang terakhir ……….. mulai saat itu para suami istri halal untuk bulan madu lagi. Seorang teman membelikan aku semangkuk bakso, …….. alhamdulillah perutku emang dah lapar. Kami menunggu yang lain yang belum datang sambil ngobrol dan makan siang. Kulihat ada satu keluarga afrika baru datang dari arah masjid. Wah ………..enak bener satu keluarga besar berhaji bareng, yang bayi baru beberapa bulan juga di bawa. Enak bener jadi orang kaya ……………… Di samping tikarku serombongan orang mesir menggelar tikar mereka tiduran dan mengobrol. Badan mereka besar, tinggi, lehernya kokoh dan besar. Mereka riuh entah bicara apa. Setelah rombonganku lengkap, sekitar jam 3 sore kami beres-beres dan segera meninggalkan masjid menuju hotel kami di misfalah. Terdengar kemudian azan ashar berkumandang ketika kami sampai di halaman masjid di depan pintu king Abdul Aziz. Sholat asharnya mau dihotel saja katanya. Sampai di hotel orang-orang segera giliran mandi, ganti baju, dan sholat. Jam 4 sore kami dijadwalkan berkumpul lagi dan segera berangkat ke Mina lagi untuk bermalam. Malam 1 di Mina Sebelum matahari terbenam kami jamaah haji harus sudah tiba di Mina. Kalau tiba di Mina kembali sesudah matahari terbenam kami bisa kena bayar dam. Tanya ustad deh damnya apa? Kalau nggak salah sih satu kambing untuk satu orang….. aku dah lupa. Mengapa kena dam ………karena syarat seseorang disebut bermalam di Mina adalah minimal dimulai dari matahari terbenam hari yang bersangkutan sampai saat sekitar sudah lewat waktu tengah malam, yakni sekitar jam 00.30 AM atau untuk amannya sampai jam 01.00 malam deh….. Kami naik angkutan umum ke Mina, dapat bus besar yang tidak bagus….1 orang bayar 10 real. Karena ada 22 orang busnya mau jalan deh ……..di jalan orang-orang juga banyak yang mau naik, sama dengan kami mereka jamaah haji yang pulang pergi Mekah – Mina. Di sepanjang jalan menuju Mina, jalanan penuh, masyaAllah …….. macet, karena semua orang mau ke Mina. Kulihat sebagian orang naik di atas atap-atap bus yang membawa mereka. Sebagian naik kol bak terbuka berdesakan dengan teman mereka. Kami turun dari bus di dekat super market Bin Dawood di dekat perbatasan daerah Mina. Kernet teriak-teriak …………..”Bin Dawood……Bin Dawood” supermarket ini ada di kanan jalan kalo dari arah misfalah. Dari pinggir jalan kami mengikuti orang-orang berjalan masuk ke dalam ke arah kiri masuk ke daerah Mina.Kami tiba di Mina pas-pasan ………..yang penting gak kena dam. Mestinya lain kali berangkat dari hotel jam 3 sore supaya waktunya tidak ngepres banget. Bersambung ke My Hajj : 3
Posted by lina on Jun 21, '07 5:21 AM for everyone SIKAP KARIR PUSTAKAWAN WANITA Survei di Perpustakaan Nasional RI Oleh: Erlina Inderasari ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara perhatian terhadap keluarga (family care) dan iklim organisasi dengan sikap-karir (career attitudes) pustakawan wanita di Perpustakaan Nasional R.I. Penelitian ini merupakan penelitian survei yang dilaksanakan terhadap para pustakawan wanita yang pada saat penelitian berlangsung mempunyai suami dan anak yang menjadi tanggung jawabnya. Populasi sebanyak 81 orang pustakawan wanita. Angket disebarkan kepada hampir seluruh populasi, dan yang kembali 71 eksemplar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif.Hasil-hasil penelitian adalah: 1) Tidak ada hubungan antara perhatian kepada keluarga (family care) dengan sikap-karir (career attitudes). Tidak selalu sikap-karir pustakawan wanita menjadi makin lemah dengan makin kuatnya perhatian kepada keluarga. a) Ada korelasi yang rendah tapi signifikan antara perhatian kepada keluarga (family care) dengan aspirasi. b) Ada korelasi yang rendah tapi signifikan antara dimensi perhatian kepada suami (peran sebagai istri) dengan aspirasi. c) Ada hubungan yang rendah tapi signifikan antara dimensi perhatian kepada anak (peran sebagai ibu) dengan sikap-karir (career attitudes). d) Ada korelasi yang rendah tapi signifikan antara dimensi perhatian kepada anak (peran sebagai ibu) dengan aspirasi. 2) Terdapat hubungan yang cukup berarti antara iklim organisasi dengan sikap-karir (career attitudes). a) Ada korelasi yang cukup berarti antara struktur organisasi dengan aspirasi. b) Ada korelasi yang rendah tapi signifikan antara imbalan dan sanksi dengan sikap-karir (career attitudes). c) Ada korelasi yang rendah tapi signifikan antara kehangatan dan dukungan dengan sikap-karir (career attitudes). d) Ada korelasi yang rendah tapi signifikan antara kehangatan dan dukungan dengan komitmen. e) Ada hubungan yang cukup berarti antara rasa memiliki dengan sikap-karir (career attitudes). f) Ada hubungan yang cukup berarti antara rasa memiliki dengan aspirasi. g) Ada hubungan yang rendah tapi signifikan antara rasa memiliki dengan ambisi. 3) Tidak ada hubungan berganda antara variabel-variabel perhatian kepada keluarga dan iklim organisasi dengan sikap-karir. A. PENDAHULUAN Kalau berkunjung ke perpustakaan-perpustakaan, akan dijumpai kesan bahwa kebanyakan pegawai perpustakaan adalah wanita. Keadaan itu tidak terbatas di perpustakaan perguruan tinggi, tetapi juga di perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan nasional, dan juga pada jenis-jenis perpustakaan yang lain. Menurut data Library Association, 1993, 75 % pustakawan adalah wanita (Jones & Goulding, 1999). Penelitian oleh Sumarningsih & Irawati (2001) menemukan 75 % pustakawan di Jakarta adalah wanita. Burrington, 1993, berpendapat bahwa tulang punggung pelayanan perpustakaan dan informasi adalah wanita, di sisi lain Schiller, 1974, berpendapat tugas-tugas di perpustakaan bersifat feminin (Jones & Goulding, 1999). Hal tersebut nampaknya mendukung citra bahwa perpustakaan adalah profesi wanita (Sumarningsih & Irawati, 2001; Burrington, 1993 dalam Jones dan Goulding, 1999; Dasgupta, 1998). Tabel 1.1. Penyebaran jabatan di Perpusnas antara pria dan wanita | jabatan | pria | wanita | jumlah | | Kaperpusnas | 1 | | 1 | | Deputi/Sekretaris | 3 | | 3 | | Ka. Pusat/Direktorat/Biro | 3 | 6 | 9 | | Ka.Bidang/Sub. Direktorat | 7 | 15 | 22 | | Ka. Subbidang | 19 | 6 | 25 | | Jumlah | 33 | 27 | 60 | Dari berbagai literatur yang tersedia, ternyata pada umumnya wanita jarang menduduki posisi puncak dalam manajemen, wanita biasanya menduduki posisi manajemen menengah dan bawah. Meskipun sebagian besar jumlah pegawai perpustakaan adalah wanita, tetapi wanita tidak terwakili secara proporsional pada posisi manajemen tingkat atas (Jones & Goulding, 1999). Profesi profesional informasi sebagian besar didominasi oleh pria. Keadaan tersebut ternyata ditemukan juga di Perpustakaan Nasional R.I. Berdasar data 1-1-2002, pegawai di Perpustakaan Nasional R.I. berjumlah 662 orang yang terdiri atas 316 wanita dan 346 pria. Jabatan struktural yang tersedia terdapat 60 posisi, dengan komposisi 27 pejabat wanita serta 32 pejabat pria (lihat tabel 1.1.). Sondang P. Siagian berpendapat bahwa sedikitnya jumlah PNS wanita yang menduduki jabatan pimpinan selalu disebabkan oleh sedikitnya jumlah PNS wanita, dan sebab lain adalah persyaratan untuk menduduki jabatan yang belum terpenuhi, dan adanya faktor ektern dan intern (Hardjo, 1990: 3). Terdapat pelbagai alasan mengapa profesional wanita jarang menduduki jabatan manajemen puncak ataupun senior. Hal tersebut dibicarakan dalam banyak literatur dan pelbagai temuan yang sebagian akan diungkapkan dalam subjudul berikut ini. PENELITIAN YANG DILAKUKAN SEBELUMNYA Menurut pandangan tradisional, pustakawan wanita sering digambarkan sebagai seorang yang sering menegur pengunjung perpustakaan dengan seruan "Shh", seorang yang membosankan, sangat menjemukan, berkaca mata, mengerjakan pekerjaan yang bersifat teknis, mempunyai pendapatan yang rendah, kurang suka menikah. Sedangkan pustakawan pria digambarkan sebagai pemikir, menguasai teknologi komputer, berpenghasilan relatif tinggi, cepat menjadi sorotan, agak feminin (Radford, 1997; Jones & Goulding, 1999; Dasgupta, 1998; Charmichael, Jr., 1994; Olson, 1995; dan lain-lain). Wanita dikatakan menghadapi hambatan 'internal' dan 'eksternal' dalam mencapai kemajuan. Hambatan eksternal termasuk hal-hal disekitar karir dan prosedur personal, serta iklim organisasi. Praktek rekruitmen yang tidak adil, sikap kuno terhadap wanita, dan gaya manajemen macho sering terjadi sehingga membatasi kesempatan wanita. Interupsi karir, perawatan keluarga (family care), perawatan atau pengasuhan anak, orientasi wanita pada peran domestik diduga menjadi penghambat kemajuan wanita di tempat kerja. Budaya organisasi juga dapat mengurangi perlawanan wanita. Kehadiran 'hambatan internal' kemajuan wanita, dan fakta-fakta di lapangan menunjukkan bahwa sikap-sikap dan perilaku yang dimiliki wanita dapat membatasi kemajuannya. Sejumlah faktor internal yaitu faktor-faktor psikologis yang mungkin membatasi ambisi wanita, adalah: kurang percaya diri; takut sukses; kepuasan hati dengan peran tradisional; konflik antara rumah dan karir; sosialisasi keyakinan wanita bahwa mereka tidak sukses; takut menanggung resiko; arah peran seksual (Farmer, 1976, dalam Jones dan Goulding, 1999; Ackah, 2003). Menurut Jones dan Goulding (1999) sikap wanita terhadap karirnya adalah salah satu hambatan utama yang mencegah wanita dalam mencapai posisi manajemen senior. Wanita masih mengalami banyak hambatan dalam menjalani profesi pilihannya. Wanita menghadapi hambatan yang terus berlanjut yang berfokus pada masalah hubungan dengan organisasi, keadaan sosial, dan faktor psikologis. Gillian Burrington (1984, dalam Jones & Goulding, 1999) melaporkan bahwa wanita sering mempunyai citra diri yang negatif ketika membicarakan karir dan masa depan mereka, dan banyak wanita yang diwawancarainya merasa kurang mempunyai kemampuan dalam pos-pos manajemen. Wanita yang memegang jabatan manajemen senior dalam jasa perpustakaan dan informasi sangat sedikit. Menurut laporan tahun 1981 (Maag, 1981), laju pergantian direktur perpustakaan perguruan tinggi di Amerika tahun 1977-78 s.d. 1978-79 menunjukkan bahwa lebih dari 12 %. Jabatan direktur ada di tangan pria, sedang jabatan lain seperti asisten direktur berada di tangan wanita. Pada perpustakaan akademi di Amerika, mudah diakui bahwa sangat jarang wanita menduduki jabatan direktur. Perbincangan sekitar kemajuan wanita di tempat kerja menunjukkan bahwa wanita menghadapi sejumlah hambatan yang bervariasi untuk berkembang. Kehidupan bermasyarakat, peran sosial dan jender tradisional, tekanan organisasi, dan bahwa pria mengatur norma, mempengaruhi sikap wanita terhadap karirnya. Hal tersebut juga mempengaruhi dan merasuk pada wanita yang bekerja di sektor perpustakaan dan informasi. Meskipun hal-hal tersebut di atas adalah gambaran jender di dunia informasi dan perpustakaan yang sebagian besar di luar negeri. Di dalam negeri, kondisi tersebut mungkin tidak jauh berbeda, akan tetapi untuk memastikannya diperlukan penelitian-penelitian. Perumusan Masalah Mengetahui kondisi perpustakaanNasional RI serta membaca berbagai referensi tentang kondisi dan sikap wanita di tempat kerja, banyak hal yang menarik untuk dipelajari. Peneliti tertarik untuk mengetahui sejauhmana hubungan antara family care, iklim organisasi, serta sikap-karir wanita yang bekerja di bidang perpustakaan. Permasalahan dalam penelitian dirumuskan sebagai berikut: Sejauhmana hubungan antara perhatian kepada keluarga (family care), iklim organisasi dengan sikap wanita terhadap karirnya sebagai pustakawan di Perpustakaan Nasional R.I. ? Tujuan Penelitian -
Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara perhatian kepada keluarga (family care) dengan sikap-karir (career attitudes) pustakawan wanita di Perpustakaan Nasional R.I. -
Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara iklim organisasi dengan sikap-karir (career attitudes) pustakawan wanita di Perpustakaan Nasional R.I. -
Untuk mengetahui apakah ada hubungan secara berganda antara perhatian kepada keluarga (family care) dan iklim organisasi dengan sikap-karir pustakawan wanita di Perpustakaan Nasional R.I. B. Hubungan Antar Variabel Sikap pustakawan wanita terhadap karirnya dicurigai sebagai salah satu penyebab mengapa pustakawan wanita kurang terepresentasikan sebagai manajer senior. Kecurigaan tersebut didukung hasil-hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sikap-sikap wanita terhadap karirnya sendiri telah menjadi hambatan utama pencapaian posisi manajemen puncak dan senior. Meskipun demikian sebagian hasil penelitian menunjukkan hal sebaliknya sehingga sebagian peneliti beranggapan bahwa faktor sosial yaitu norma-norma sosial yang dipahami oleh wanita dan faktor-faktor organisasi mempengaruhi sikap-karir wanita. Hal semacam ini diyakini merata terjadi pada semua profesi, termasuk profesi kepustakawanan. Ada kepercayaan bahwa sikap pustakawan terhadap profesinya merupakan masalah serius di bidang perpustakaan. Alice I. Bryan dalam studinya pada perpustakaan umum yang diterbitkan tahun 1952 melaporkan bahwa hanya 74 % pustakawan profesional dan 57% subprofesional meyangsikan “mungkin” atau “pasti” akan memilih kepustakawanan sebagai karir jika mereka mulai lagi dari awal. C.J. Frarey, pada tahun 1956, berkomentar pada adanya (eksistensi) professional apathy (masa bodoh/ketidakpedulian profesional) di kalangan pustakawan dan kurangnya ketertarikan pustakawan pada profesinya sendiri. Dan Elma Eaton melakukan pengujian masalah yang disebutnya sebagai professional inertia (kelembaman profesional), menyatakan bahwa alasan kegagalan kepustakawanan telah diakui sebagai professional stemmed (halangan/rintangan profesi). Evangeline Mistaras mempelajari sikap 30 pustakawan perpustakaan khusus terhadap mereka sendiri sebagai pustakawan dan terhadap pekerjaan-pekerjaan mereka. Di sana ditemukan bahwa tidak ada informasi yang objektif pada seorang pustakawan pun berkaitan dengan sifat dan tingkat dari adanya sikap-sikap mereka sendiri sebagai seorang pustakawan yang merupakan profesi mereka sendiri. (Thornton, 1963) Di Indonesia, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa sebagian besar wanita bekerja karena tuntutan kebutuhan fisik yang belum terpenuhi. Mereka bekerja untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan keluarga/rumah tangganya. Namun, pendidikan wanita yang semakin tinggi membuat sebagian wanita bekerja karena motivasi-motivasi yang lain yang lebih bervareasi. Hirarki Kebutuhan dari Maslow mengidentifikasi kebutuhan manusia yang tersusun secara hirarkis berdasarkan urutan sebagai berikut: 1) kebutuhan fisik 2) kebutuhan keamanan 3) kebutuhan sosial 4) kebutuhan penghargaan dan, 5) kebutuhan aktualisasi diri (Dutton, 1976;Kast, 1979; Byars, 1984; dalam Jasmani, 1995). Selain itu Maslow juga menyatakan bahwa perilaku individu didorong untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang belum terpuaskan (Middlemis, 1983, dalam Jasmani, 1995). Baik pria maupun wanita mempunyai kebutuhan yang bersifat hirarkis seperti tersebut di atas. Sebagai manusia, kedua jenis kelamin berusaha memenuhi kebutuhan tingkat pertama mereka yaitu kebutuhan fisik. Pria mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Tidak terpenuhinya nafkah dari suami akan mendorong istri untuk membantu suami mencari nafkah tambahan. Wanita juga membutuhkan perasaan aman, baik secara fisik, material, maupun spiritual. Oleh karena itu, wanita akan memilih tempat-tempat kerja yang cukup aman bagi dirinya. Selain itu untuk kebahagiannya wanita membutuhkan kedamaian hati dan pikiran. Hati yang damai terutama akan diperoleh dengan mendekatkan diri kepada Tuhan semesta alam. Kedamaian pikiran tersebut adalah sesuatu yang hanya bisa muncul dari adanya stabilitas persahabatan yang permanen Khan (2003), yaitu dari suaminya. Untuk kedamaian hati dan pikirannya, wanita memerlukan dukungan norma-norma agama dan kompromi dari keluarganya, terutama dari suaminya. Dalam bekerja pun wanita cenderung mencari posisi yang aman, tidak menyusahkan, sehingga ia dapat memenuhi kewajibannya terhadap suami dan anak-anaknya. Wanita yang memutuskan bekerja di luar rumah berpotensi mengalami konflik batin dalam dirinya. Wanita selalu menginginkan menjadi istri yang baik bagi suaminya, dan ibu yang baik bagi anak-anaknya. Merupakan fitrah wanita bahwa ia ingin mengasuh dan merawat anak-anaknya sendiri, mendidiknya menjadi anak yang shaleh, memberi teladan yang baik, dan lain-lain. Jam kerja yang cukup panjang serta waktu yang cukup lama untuk perjalanan pulang pergi dari rumah ke kantor dan sebaliknya, akan menyisakan sedikit waktu bagi keluarganya. Penelitian oleh Robbyanto (2002) menemukan bahwa wanita pekerja merasa kesulitan berkomunikasi dengan suami dan anak-anaknya setelah bekerja di luar rumah, pola asuh terhadap anak-anak mereka menjadi terpengaruh akibat sempitnya waktu bertemu dengan keluarga. Kemudian apabila wanita memiliki anak yang masih kecil, yang masih memerlukan pengasuhan dan kasih sayang penuh dari ibunya, tentu mereka akan merasa sangat bersalah dan tidak nyaman meninggalkan anak-anaknya di rumah. Selain itu apabila mereka mempunyai anak yang lebih banyak, lebih sulit bagi wanita untuk menyeimbangkan kepentingan keluarga dan karir (Holt, 1981 dalam Watkins, Herrin, & McDonald, 1998). Untuk dapat melaksanakan kewajiban di dalam rumah tangganya serta kewajibannya di kantor dengan baik, maka ia harus bekerja lebih keras di dalam maupun di luar rumah. Mungkin sekali ia harus bangun jauh lebih awal untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan menyiapkan segala sesuatu bagi keluarganya. Pengertian dan kompromi dari (terutama) suami serta seluruh anggota keluarga sangat diperlukan oleh wanita super (super woman) supaya ia mendapatkan kepuasan di dalam maupun di luar rumah. Namun, bagaimana pun kondisi semacam itu akan menimbulkan stres yang cukup berat bagi wanita bila tidak dapat menyeimbangkan kepentingan keluarga dan karirnya. Wanita juga membutuhkan kesempatan untuk melakukan hubungan sosial dengan sesamanya karena ia adalah makhluk sosial. Di mana pun wanita berada ia akan melakukan interaksi dengan orang lain, yaitu di lingkungan keluarga, kantor maupun di lingkungan masyarakat. Sebagai manusia ia membutuhkan orang-orang lain dalam memenuhi berbagai kebutuhannya. Akan tetapi wanita-wanita yang terjun di dunia kerja, termasuk yang berprofesi pustakawan, seringkali menjumpai tindakan-tindakan yang tidak menguntungkan, baik dari rekan kerja pria maupun dari sesama wanita. Pelecehan seksual sering dialami oleh pekerja wanita yang biasanya berada pada posisi yang lebih lemah. Kondisi lingkungan kerja yang tidak aman dari pelecehan semacam itu akan melemahkan sikap-karir wanita. Mungkin ia akan keluar dari pekerjaannya. Wanita-wanita yang bekerja harus siap menghadapi konflik, karena di mana pun mereka berada konflik akan selalu mungkin ada. Konflik berpotensi terjadi di dalam organisasi, dapat bersifat organisasional maupun individual. Apabila wanita tidak cukup tahan menghadapi konflik, ia akan mudah tersingkir. Konflik yang terjadi di dalam organisasi akan mempengaruhi sikap-karir. Hubungan yang harmonis dan penuh persahabatan dengan rekan seprofesi, dan para pimpinan, diduga akan memp |
|